Cockatoocourse.com – Siapa, sih, yang enggak kenal dengan Harajuku? Begitu mendengar nama ini, pikiran kita langsung melayang ke Tokyo yang penuh warna. Ini adalah tempat anak-anak muda berkumpul. Gaya busana mereka super unik dan berani.

Fesyennya sangat beragam. Ada gaya Lolita yang imut, Decora yang heboh, sampai Punk yang edgy. Harajuku memang sudah jadi ikon global untuk budaya street fashion Jepang kontemporer. Tapi, tahukah kamu kalau citra keren Harajuku ini ternyata melalui proses yang panjang dan menarik? Harajuku bukan cuma sekadar tempat. Tempat ini juga sebuah imaji yang dibangun secara historis dan disebarluaskan oleh media!

Sejarah Singkat yang Bikin Harajuku Nge-Hits

Harajuku Style
Takeshita Street

Harajuku yang kita kenal sekarang terletak di sekitar Jalan Takeshita Street. Tempat ini adalah hasil dari perpaduan banyak peristiwa penting. Prosesnya terjadi sejak era pasca-Perang Dunia II. Awalnya, daerah ini memiliki aura glam dan internasional. Ini berkat kehadiran tentara Amerika Serikat. Mereka berada di area yang sekarang menjadi Yoyogi Park. Kehadiran mereka membawa suasana dan arsitektur ala Barat. Hal ini menarik para seniman, desainer, dan copywriter untuk pindah ke sana. Harajuku pun menjadi pusat yang dijuluki “Champs Élysées”-nya Jepang.

Pada tahun 1960-an, muncul kelompok “Harajuku-zoku” (suku Harajuku). Mereka adalah mahasiswa kelas menengah. Mereka berkumpul dengan mobil sport dan gaya busana rapi. Puncak perkembangannya dimulai di tahun 1970-an. Saat itu, muncul majalah fesyen seperti “non-no” dan “an-an” yang secara rutin menampilkan Harajuku. Ini lho yang bikin banyak gadis muda, yang kemudian dijuluki “annon zoku,” tertarik datang dan berbelanja di sana.

Momen paling penting adalah saat munculnya “Hokosha Tengoku” (Pedestrian Paradise) pada tahun 1977. Saat itu, jalan utama ditutup untuk kendaraan setiap hari Minggu. Ruang publik inilah yang jadi lahan subur bagi berkembangnya berbagai subkultur. Ini termasuk Takenoko-zoku yang suka menari dengan kostum unik! Dari sini, Harajuku benar-benar menjadi tempat para pemuda mengekspresikan diri melalui busana.

Baca juga: Mengapa Bahasa Inggris Britania Begitu Berbeda dengan Bahasa Inggris Amerika? – Cockatoo Course

Peran Majalah dan Media Sosial

Jadi, bagaimana caranya Harajuku bisa terkenal sampai ke seluruh dunia? Jawabannya ada di komodifikasi tempat dan representasi media.

Banyak orang terinspirasi datang ke Harajuku. Salah satunya adalah penulis penelitian tentang Harajuku. Mereka melihat “street snap” di majalah fesyen populer seperti KERA. Foto-foto itu menampilkan orang-orang bergaya unik di jalanan Harajuku. Ini membangun sebuah fantasi fesyen. Pembaca merasa seolah-olah seluruh jalanan Harajuku dipenuhi oleh orang-orang modis.

Majalah-majalah ini “menjual” citra Harajuku. Tempat itu digambarkan sebagai tempat paling modis di Jepang. Menariknya, foto street snap ini sering mencantumkan akun media sosial. Dulu Twitter, sekarang mungkin platform lain. Informasi lokasi toko juga disertakan.

Ini menciptakan lingkaran keinginan yang berlanjut. Orang-orang ingin tampil di majalah. Jadi, mereka datang ke Harajuku dengan pakaian unik. Foto mereka dipublikasikan. Akhirnya, pembaca lain pun termotivasi untuk datang. Harajuku, yang tadinya hanya sebuah latar belakang, kini menjadi komoditas budaya yang menarik banyak pengunjung dan konsumen.

Belakangan muncul kekhawatiran bahwa fesyen Harajuku mengalami penurunan. Alasannya adalah munculnya fast fashion seperti UNIQLO. Hilangnya “Hokosha Tengoku” juga menjadi faktor. Namun, Harajuku tetap diakui secara internasional. Tempat ini adalah simbol penting budaya unik Jepang. Gaya yang open dan liberal, serta keberanian dalam menunjukkan individualitas, menjadi cerminan nilai-nilai sosial budaya di sana.

Harajuku membuktikan bahwa sebuah tempat bisa menjadi lebih dari sekadar lokasi geografis. Ia adalah hasil dari sejarah dan ekonomi. Ini juga merupakan upaya kolektif para pemuda yang berani tampil beda. Tentu saja, semua dibantu oleh kekuatan representasi media.

Kalau kamu berkunjung ke Tokyo, jangan lewatkan mampir ke sana, ya! Siapa tahu kamu jadi street snap selanjutnya! 😉

(Suci Anggina)

Referensi:

https://www.apu.ac.jp/rcaps/uploads/fckeditor/publications/journal/RJAPS34_2_Nakao.pdf

https://drpress.org/ojs/index.php/EHSS/article/view/20407

https://digitalcommons.unomaha.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1337&context=university_honors_program


19 December 2025

Kursus Bahasa Mandarin Kursus Bahasa Korea Kursus Bahasa Jepang Kursus Bahasa Inggris Les Bahasa Mandarin Les Bahasa Korea Les Bahasa Jepang Les Bahasa Inggris Belajar Bahasa Mandarin Belajar Bahasa Korea Belajar Bahasa Jepang Belajar Bahasa Inggris Bahasa Mandarin Dasar Bahasa Korea Dasar Bahasa Jepang Dasar Bahasa Inggris Dasar Translate Indonesia Mandarin Translate Indonesia Korea Translate Indonesia Jepang Translate Indonesia Inggris Drama Cina Drama Korea Anime Bahasa Inggris Lanjutan Lagu Mandarin Korea Selatan Video Jepang Kamus Inggris Jeruk Mandarin Nama Korea Nama Jepang Liga Inggris Angka Mandarin Artis Korea Tulisan Jepang British Tulisan Mandarin Korean Pop Makanan Jepang American HSK TOPIK JLPT TOEFL + IELTS

Kursus Bahasa Mandarin Kursus Bahasa Korea Kursus Bahasa Jepang Kursus Bahasa Inggris Les Bahasa Mandarin Les Bahasa Korea Les Bahasa Jepang Les Bahasa Inggris Belajar Bahasa Mandarin Belajar Bahasa Korea Belajar Bahasa Jepang Belajar Bahasa Inggris Bahasa Mandarin Dasar Bahasa Korea Dasar Bahasa Jepang Dasar Bahasa Inggris Dasar Translate Indonesia Mandarin Translate Indonesia Korea Translate Indonesia Jepang Translate Indonesia Inggris Drama Cina Drama Korea Anime Bahasa Inggris Lanjutan Lagu Mandarin Korea Selatan Video Jepang Kamus Inggris Jeruk Mandarin Nama Korea Nama Jepang Liga Inggris Angka Mandarin Artis Korea Tulisan Jepang British Tulisan Mandarin Korean Pop Makanan Jepang American HSK TOPIK JLPT TOEFL + IELTS

Whatsapp