“Business Chinese” Bisa Naikkan Gajimu Hingga 25%

Cockatoocourse.com – Di dunia kerja yang makin kompetitif, punya satu skill tambahan saja bisa membuat posisi kita jauh lebih unggul. Salah satu skill yang sekarang nilainya naik drastis adalah Business Chinese atau Bahasa Mandarin untuk keperluan profesional. Bukan sekadar bisa ngobrol, tapi benar-benar paham cara berkomunikasi dalam konteks bisnis, kerja sama, dan negosiasi.

Kenapa Business Chinese Jadi Skill Bernilai Tinggi?

China saat ini memegang peran besar dalam ekonomi global. Nilai ekonominya sudah mencapai USD 17 triliun, dengan 1,1 miliar pengguna internet aktif dan pasar e-commerce terbesar di dunia. Banyak perusahaan internasional bekerja sama dengan mitra dari China, tapi jumlah profesional yang bisa Business Chinese masih sangat terbatas.

Faktanya, hanya ada 1 orang yang benar-benar kompeten untuk setiap 14 posisi kerja yang membutuhkan skill ini. Akibatnya, perusahaan bersedia memberi gaji lebih tinggi dan jalur karier lebih cepat bagi kandidat yang menguasainya.

Business Chinese dan Dampaknya ke Gaji

Berdasarkan berbagai riset global, profesional yang menguasai Business Chinese berpotensi mendapatkan:

  • Kenaikan gaji 15–25%

  • Promosi 74% lebih cepat

  • Peluang kerja internasional hingga 3 kali lipat

Di sektor teknologi, product manager dan AI developer yang bisa Mandarin mendapatkan gaji rata-rata 23% lebih tinggi. Di bidang keuangan dan investasi, analis dengan Business Chinese mampu mengelola portofolio hingga 2,8 kali lebih besar. Sementara di perdagangan internasional, kemampuan negosiasi dalam bahasa Mandarin terbukti menghasilkan kontrak yang lebih menguntungkan.

Lebih Unggul Dibanding Bahasa Bisnis Lain

Jika dibandingkan dengan bahasa bisnis lain seperti Spanyol, Jerman, atau Arab, Business Chinese memiliki Return on Investment (ROI) tertinggi. Pertumbuhan kebutuhannya mencapai 34% per tahun, jauh lebih cepat dibanding bahasa lain. Ini karena China masih menjadi pusat utama teknologi, manufaktur, AI, energi terbarukan, dan ekonomi digital.

Bahkan menurut para ahli, investasi belajar Business Chinese untuk profesional bisa memberikan hasil yang melebihi program MBA, terutama dari sisi percepatan karier dan peningkatan penghasilan.

Level Mandarin dan Manfaat Nyatanya

Kabar baiknya, kamu tidak harus langsung fasih.

  • HSK 3 sudah cukup untuk komunikasi bisnis dasar dan bisa menaikkan gaji 5–8%

  • HSK 4 memungkinkan presentasi dan negosiasi sederhana, dengan kenaikan 12–18%

  • HSK 5 membuka peluang manajerial dengan kenaikan 20–25%

  • HSK 6 biasanya dibutuhkan untuk posisi senior dan eksekutif global

Dengan belajar konsisten 5–7 jam per minggu, banyak profesional bisa mencapai HSK 4–5 dalam waktu 1–2 tahun.

Kesimpulan

Business Chinese bukan sekadar belajar bahasa, tapi investasi karier jangka panjang. Di saat banyak orang masih ragu memulai, mereka yang sudah lebih dulu belajar akan menikmati gaji lebih tinggi, promosi lebih cepat, dan akses ke peluang global.

Kalau kamu ingin karier yang naik kelas, Business Chinese bisa jadi langkah strategis terbaik yang kamu ambil sekarang.

Baca juga: 5 Idiom Bahasa Inggris yang Sering Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari – Cockatoo Course

Nah, kalau kamu ingin gajimu naik hingga 25% atau punya peluang bekerja di perusahaan global dengan gaji minimal dua digit, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai belajar Bahasa Mandarin.

Di Cockatoo Course, kamu bisa belajar Mandarin bisnis secara terstruktur, praktis, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Materinya fokus ke komunikasi profesional, kosakata bisnis, hingga latihan yang bisa langsung dipakai di lingkungan kerja internasional.

Belajarnya fleksibel, pengajarnya berpengalaman, dan cocok untuk pemula sampai level lanjutan. Jadi, kamu tidak hanya belajar bahasa, tapi juga menyiapkan diri untuk karier global yang lebih menjanjikan.

(Suci Anggina)

Kenapa Inggris Masih Menjadi Kerajaan Monarki?

Cockatoocourse.com – Kalau kamu pernah nonton The Crown di Netflix, pasti kerasa banget bagaimana kehidupan keluarga kerajaan Inggris digambarkan dari masa ke masa. Mulai dari Ratu Elizabeth II kecil sampai saat ia memimpin kerajaan, semuanya diceritakan detail, termasuk bagaimana sistem monarki bekerja di negara modern seperti Inggris.

Di salah satu episodenya, ada kejadian kabut asap tebal tahun 1952 yang melumpuhkan London dan menewaskan ribuan orang. Menariknya, keputusan soal krisis ini justru diambil oleh Perdana Menteri Winston Churchill. Sang ratu hanya dikonsultasikan, tanpa terlibat dalam pengambilan keputusan langsung. Dari sini aja udah kelihatan bahwa monarki di Inggris bukan lagi soal kekuasaan absolut.

Lalu, kalau begitu, kenapa Inggris masih mempertahankan sistem kerajaan monarki?

Sedikit Balik ke Sejarahnya

Untuk memahami jawabannya, kita perlu mundur sedikit. Inggris awalnya merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi pada tahun 43 Masehi setelah ditaklukkan oleh Jenderal Aulus Plautius. Ketika Romawi runtuh, Inggris dikuasai oleh Anglo-Saxon dan terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil. Sistem ini disebut Heptarki.

Barulah pada tahun 927, Raja Athelstan dari Wessex berhasil menyatukan wilayah-wilayah tersebut menjadi satu kerajaan. Sejak saat itu, monarki jadi bagian penting dari identitas Inggris dan bertahan hingga sekarang. Dengan perjalanan sejarah sepanjang itu, wajar kalau monarki menjadi simbol kuat yang sulit dipisahkan dari Inggris.

Monarki Inggris di Era Modern

Sekarang, Inggris bukan lagi monarki absolut, melainkan monarki konstitusional. Artinya, raja atau ratu memiliki peran seremonial, sementara kekuasaan politik berada di tangan parlemen dan perdana menteri.

Jadi, meski gelarnya masih “raja” atau “ratu”, mereka tidak membuat keputusan politik sehari-hari. Mereka menjadi simbol negara, penjaga tradisi, dan representasi stabilitas.

Kenapa Masih Dipertahankan?

Ada beberapa alasan kenapa Inggris tetap mempertahankan monarki:

1. Identitas nasional

Kerajaan adalah ikon yang lekat dengan budaya Inggris. Mulai dari sejarah, upacara kenegaraan, sampai istana megah yang jadi daya tarik dunia.

2. Stabilitas dan kontinuitas

Ketika pemerintahan berganti setiap beberapa tahun, keluarga kerajaan jadi simbol yang konsisten dan tidak terpengaruh politik.

3. Dampak ekonomi

Percaya atau nggak, turisme yang berkaitan dengan kerajaan menghasilkan pemasukan besar. Istana Buckingham, Windsor Castle, dan berbagai upacara kerajaan selalu menarik jutaan wisatawan.

4. Fungsi diplomatik

Keluarga kerajaan punya peran dalam hubungan antarnegara, terutama dalam acara seremonial atau kunjungan resmi.

Baca juga: Mengapa Bahasa Inggris Britania Begitu Berbeda dengan Bahasa Inggris Amerika? – Cockatoo Course

Kesimpulan

Inggris masih mempertahankan monarki bukan karena raja atau ratu memegang kekuasaan besar, tetapi karena monarki sudah menjadi bagian dari identitas, budaya, dan sejarah mereka. Selain itu, keberadaan kerajaan memberikan manfaat ekonomi, stabilitas, serta nilai simbolis yang sulit digantikan. Jadi, meskipun dunia semakin modern, monarki di Inggris tetap hidup sebagai tradisi yang terus relevan.

Kalau kamu makin penasaran sama dunia berbahasa Inggris, mulai dari sejarah, budaya, sampai percakapan sehari-hari, ini saatnya belajar langsung bareng Cockatoo Course.
Belajarnya santai, pengajarnya asyik, dan materinya dibuat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Mau tahu lebih lanjut tentang Cockatoo Course? Yuk kepoin kita di instagram dan tiktok @Cockatoocourse.

(Suci Anggina)

Bibimbap’s History and Culture

Cockatoocourse.com – Bibimbap adalah salah satu hidangan paling ikonik dalam kuliner Korea. Nama “bibimbap” berasal dari kata bibim (mencampur) dan bap (nasi), yang menggambarkan cara penyajiannya: semangkuk nasi hangat yang dicampur dengan aneka sayuran, telur, saus gochujang, kecap, atau minyak wijen. Hidangan sederhana ini kini bukan hanya makanan sehari-hari masyarakat Korea, tetapi juga menjadi kuliner global yang banyak disukai wisatawan mancanegara.

Jejak Sejarah Bibimbap

Asal-usul bibimbap memang tidak tercatat secara pasti, namun beberapa teori berkembang di kalangan sejarawan. Salah satu teori paling populer menyebutkan bahwa bibimbap berasal dari tradisi ritual jesa, yaitu upacara penghormatan leluhur. Setelah makanan diletakkan sebagai persembahan, keluarga akan mencampur sisa hidangan, mulai dari nasi, daging, hingga sayuran ke dalam satu mangkuk.

Teori lain menyatakan bahwa bibimbap muncul dari kebiasaan masyarakat Korea menyantap sisa bahan makanan menjelang pergantian tahun. Tradisi ini dilakukan agar tahun baru dimulai dengan lemari es yang bersih dan pikiran yang lebih segar. Ada pula pendapat yang mengaitkan bibimbap dengan kehidupan para petani zaman Joseon, yang membawa berbagai bahan ke sawah dan mencampurnya agar lebih praktis disantap saat bekerja.

Catatan tertulis tentang bibimbap pertama kali muncul pada masa Dinasti Joseon, sekitar tahun 1600-an. Beberapa buku masak klasik bahkan menyebut bibimbap dengan nama lain seperti goldongban dan hwaban, menggambarkan tampilan warnanya yang cantik seperti bunga.

Baca juga: Mengenal Bahasa Jepang di Balik Tradisi ‘Omotenashi’ (Keramahtamahan Khas Jepang) – Cockatoo Course

Ragam Budaya dan Variasi Daerah

Perjalanan bibimbap tidak lepas dari kekayaan budaya Korea. Setiap daerah menciptakan versi bibimbap yang unik, misalnya:

  • Jeonju Bibimbap, terkenal dengan bahan berkualitas tinggi dan warna yang memikat.

  • Jinju Bibimbap, yang menggunakan daging sapi mentah dan saus manis pedas.

  • Yeolmu Bibimbap, populer di musim panas berkat segarnya kimchi lobak muda.

  • Dolsot Bibimbap, disajikan dalam mangkuk batu panas yang memberikan tekstur nasi renyah di bagian bawah.

Selain versi tradisional, bibimbap modern juga hadir dalam bentuk fusion seperti bibimbap alpukat, bibimbap kecap, hingga kombinasi gaya Jepang.

Bibimbap dalam Budaya Modern

Bibimbap’s History and Culture
Bibimbap’s History and Culture

Kepopuleran budaya Korea mulai dari drama, musik, hingga pariwisata berperan besar dalam mendongkrak popularitas bibimbap di seluruh dunia. Restoran Korea, food truck, hingga maskapai internasional kini banyak menyediakan menu bibimbap. Hidangan ini bukan hanya menyehatkan, tetapi juga fleksibel karena bisa dikreasikan sesuai selera.

Pada akhirnya, bibimbap bukan sekadar makanan; ia adalah representasi identitas kuliner Korea yang kaya sejarah, budaya, dan kreativitas. Siapa pun yang berkunjung ke Korea wajib mencoba berbagai versi bibimbap untuk merasakan keunikan tiap daerah. Eits, jangan lupa, sebelum ke Korea yuk kurus Bahasa Korea terlebih dahulu di Cockatoo Course agar lebih memahami budaya Korea lainnya!😉

(Suci Anggina)

Referensi:
Creatrip: Semua Tentang Bibimbap | Sejarah, Ciri Khas Daerah, Resep & Lainnya

Bibimbap: Warisan Rasa dan Filosofi Hidup dari Korea Selatan – Jawa Pos

Kenapa Harajuku Begitu Ikonik?

Cockatoocourse.com – Siapa, sih, yang enggak kenal dengan Harajuku? Begitu mendengar nama ini, pikiran kita langsung melayang ke Tokyo yang penuh warna. Ini adalah tempat anak-anak muda berkumpul. Gaya busana mereka super unik dan berani.

Fesyennya sangat beragam. Ada gaya Lolita yang imut, Decora yang heboh, sampai Punk yang edgy. Harajuku memang sudah jadi ikon global untuk budaya street fashion Jepang kontemporer. Tapi, tahukah kamu kalau citra keren Harajuku ini ternyata melalui proses yang panjang dan menarik? Harajuku bukan cuma sekadar tempat. Tempat ini juga sebuah imaji yang dibangun secara historis dan disebarluaskan oleh media!

Sejarah Singkat yang Bikin Harajuku Nge-Hits

Harajuku Style
Takeshita Street

Harajuku yang kita kenal sekarang terletak di sekitar Jalan Takeshita Street. Tempat ini adalah hasil dari perpaduan banyak peristiwa penting. Prosesnya terjadi sejak era pasca-Perang Dunia II. Awalnya, daerah ini memiliki aura glam dan internasional. Ini berkat kehadiran tentara Amerika Serikat. Mereka berada di area yang sekarang menjadi Yoyogi Park. Kehadiran mereka membawa suasana dan arsitektur ala Barat. Hal ini menarik para seniman, desainer, dan copywriter untuk pindah ke sana. Harajuku pun menjadi pusat yang dijuluki “Champs Élysées”-nya Jepang.

Pada tahun 1960-an, muncul kelompok “Harajuku-zoku” (suku Harajuku). Mereka adalah mahasiswa kelas menengah. Mereka berkumpul dengan mobil sport dan gaya busana rapi. Puncak perkembangannya dimulai di tahun 1970-an. Saat itu, muncul majalah fesyen seperti “non-no” dan “an-an” yang secara rutin menampilkan Harajuku. Ini lho yang bikin banyak gadis muda, yang kemudian dijuluki “annon zoku,” tertarik datang dan berbelanja di sana.

Momen paling penting adalah saat munculnya “Hokosha Tengoku” (Pedestrian Paradise) pada tahun 1977. Saat itu, jalan utama ditutup untuk kendaraan setiap hari Minggu. Ruang publik inilah yang jadi lahan subur bagi berkembangnya berbagai subkultur. Ini termasuk Takenoko-zoku yang suka menari dengan kostum unik! Dari sini, Harajuku benar-benar menjadi tempat para pemuda mengekspresikan diri melalui busana.

Baca juga: Mengapa Bahasa Inggris Britania Begitu Berbeda dengan Bahasa Inggris Amerika? – Cockatoo Course

Peran Majalah dan Media Sosial

Jadi, bagaimana caranya Harajuku bisa terkenal sampai ke seluruh dunia? Jawabannya ada di komodifikasi tempat dan representasi media.

Banyak orang terinspirasi datang ke Harajuku. Salah satunya adalah penulis penelitian tentang Harajuku. Mereka melihat “street snap” di majalah fesyen populer seperti KERA. Foto-foto itu menampilkan orang-orang bergaya unik di jalanan Harajuku. Ini membangun sebuah fantasi fesyen. Pembaca merasa seolah-olah seluruh jalanan Harajuku dipenuhi oleh orang-orang modis.

Majalah-majalah ini “menjual” citra Harajuku. Tempat itu digambarkan sebagai tempat paling modis di Jepang. Menariknya, foto street snap ini sering mencantumkan akun media sosial. Dulu Twitter, sekarang mungkin platform lain. Informasi lokasi toko juga disertakan.

Ini menciptakan lingkaran keinginan yang berlanjut. Orang-orang ingin tampil di majalah. Jadi, mereka datang ke Harajuku dengan pakaian unik. Foto mereka dipublikasikan. Akhirnya, pembaca lain pun termotivasi untuk datang. Harajuku, yang tadinya hanya sebuah latar belakang, kini menjadi komoditas budaya yang menarik banyak pengunjung dan konsumen.

Belakangan muncul kekhawatiran bahwa fesyen Harajuku mengalami penurunan. Alasannya adalah munculnya fast fashion seperti UNIQLO. Hilangnya “Hokosha Tengoku” juga menjadi faktor. Namun, Harajuku tetap diakui secara internasional. Tempat ini adalah simbol penting budaya unik Jepang. Gaya yang open dan liberal, serta keberanian dalam menunjukkan individualitas, menjadi cerminan nilai-nilai sosial budaya di sana.

Harajuku membuktikan bahwa sebuah tempat bisa menjadi lebih dari sekadar lokasi geografis. Ia adalah hasil dari sejarah dan ekonomi. Ini juga merupakan upaya kolektif para pemuda yang berani tampil beda. Tentu saja, semua dibantu oleh kekuatan representasi media.

Kalau kamu berkunjung ke Tokyo, jangan lewatkan mampir ke sana, ya! Siapa tahu kamu jadi street snap selanjutnya! 😉

(Suci Anggina)

Referensi:

https://www.apu.ac.jp/rcaps/uploads/fckeditor/publications/journal/RJAPS34_2_Nakao.pdf

https://drpress.org/ojs/index.php/EHSS/article/view/20407

https://digitalcommons.unomaha.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1337&context=university_honors_program

China Ubah Pasir Gurun Jadi Kertas!

Inovasi Unik dari Negeri Tirai Bambu

Cockatoocourse.com – Bayangkan kalau kertas bisa dibuat tanpa menebang satu pohon pun, tanpa air, dan tanpa bahan kimia berbahaya. Kedengarannya seperti hal yang mustahil, ya? Tapi kenyataannya, China berhasil mewujudkannya lewat inovasi luar biasa bernama stone paper atau kertas batu.

Kertas ini dibuat dari pasir gurun yang kaya kalsium karbonat dan limbah pertanian, tanpa menggunakan pulp kayu sama sekali. Prosesnya tidak membutuhkan air, tidak menghasilkan limbah, dan benar-benar ramah lingkungan. Hasilnya adalah kertas yang halus, tahan air, dan kuat, sekaligus jadi simbol baru keberlanjutan masa depan.

Bagaimana Cara Membuat Stone Paper?

Stone Paper
Stone Paper

Teknologi pembuatan stone paper mengandalkan campuran kalsium karbonat dan resin ramah lingkungan. Kedua bahan ini diolah hingga membentuk lembaran menyerupai kertas, tapi jauh lebih tahan lama dan tidak mudah rusak.

Menariknya, di perbatasan gurun China kini mulai dibangun pabrik-pabrik bergerak untuk memproduksi kertas ini langsung di lokasi sumber bahan bakunya. Jadi, lahan tandus yang dulu tidak berguna kini bisa berubah menjadi pusat produksi ramah lingkungan.

Dampak Positif bagi Lingkungan dan Ekonomi

Inovasi ini membawa dua dampak besar:

  1. Menyelamatkan hutan dari penebangan, karena tidak ada kayu yang digunakan.

  2. Meningkatkan ekonomi lokal, daerah gurun kini punya peluang baru lewat produksi kertas ramah lingkungan.

Dengan langkah ini, China membuktikan bahwa keberlanjutan bukan cuma tentang menjaga alam, tapi juga tentang berinovasi secara kreatif dan berani.

Baca Juga: Makna Bendera Tiongkok: Simbol Persatuan dan Revolusi – Cockatoo Course

Inspirasi untuk Dunia

Kalau gurun bisa menghasilkan kertas, bayangkan potensi besar yang bisa muncul dari sumber daya lain di seluruh dunia. Negara kepulauan, misalnya, mungkin bisa mengubah batu vulkanik, limbah tebu, atau bahan alam lain menjadi produk ramah lingkungan yang tak kalah inovatif. Intinya, masa depan keberlanjutan ada di tangan manusia, bukan hanya dengan melindungi alam, tapi dengan menemukan cara baru untuk hidup berdampingan dengannya.

Penutup

Langkah China ini bukan sekadar inovasi teknologi, tapi juga pesan kuat bahwa masa depan kertas tidak harus bergantung pada pohon. Dari pasir gurun yang gersang, lahirlah harapan baru untuk bumi yang lebih hijau.

Kalau kamu ingin tahu berita menarik lainnya dari Negeri Tirai Bambu, yuk daftar kursus kelas Bahasa Mandarin di Cockatoo Course! Siapa tahu, dari belajar bahasanya, kamu juga bisa memahami lebih dalam budaya dan inovasi luar biasa dari China.

(Suci Anggina)

Bahas Tentang “Hangul Day” Yuk!

Cockatoocourse.com – Pernah dengar tentang Hangul Day atau Hari Hangeul? Kalau kamu suka hal-hal berbau Korea entah itu K-pop, K-drama, atau bahasa Koreanya, hari ini wajib kamu tahu! Setiap tanggal 9 Oktober, masyarakat Korea Selatan merayakan lahirnya aksara kebanggaan mereka: Hangul (한글). Tapi tahukah kamu kalau sejarahnya panjang banget dan penuh makna? Yuk, bahas bareng!

Asal-usul Hangul

Raja Sejong yang Agung
Raja Sejong yang Agung

Hangul pertama kali diciptakan oleh Raja Sejong yang Agung pada tahun 1443, di masa Dinasti Joseon. Waktu itu, rakyat Korea menggunakan karakter Tionghoa (Hanja) untuk menulis. Masalahnya, huruf-huruf itu sulit dipelajari dan hanya kalangan bangsawan yang bisa membacanya. Akibatnya, banyak rakyat biasa yang buta huruf.

Melihat kondisi ini, Raja Sejong bertekad menciptakan aksara yang mudah dipelajari oleh semua orang, tanpa memandang status sosial. Maka lahirlah Hunminjeongeum (훈민정음), yang berarti “suara yang benar untuk mengajar rakyat.” Nama ini juga jadi dasar dari sistem penulisan Hangul yang kita kenal sekarang.

Hangul Day

Hangul Day pertama kali dirayakan pada 1920-an, saat Korea masih dijajah Jepang. Waktu itu, perayaannya dianggap bentuk protes budaya terhadap upaya penjajahan yang ingin menghapus identitas nasional.

Setelah Korea merdeka pada 1945, pemerintah resmi menetapkan 9 Oktober sebagai Hari Hangul Nasional pada tahun 1949. Walaupun sempat dihapus dari kalender libur nasional pada 1990, akhirnya pada 2013, Hangul Day kembali diakui sebagai hari libur nasional penuh makna.

Keunikan Hangul yang Bikin Kagum

Salah satu hal keren dari Hangul adalah desain hurufnya yang logis dan ilmiah.

  • Ada 19 konsonan dan 21 vokal, tapi semuanya bisa dikombinasikan menjadi ribuan suku kata.

  • Bentuk hurufnya menggambarkan posisi lidah dan mulut saat diucapkan. Misalnya:

    • ㄱ melambangkan suara “g/k” (bentuk lidah menyentuh langit-langit mulut),

    • ㄴ untuk “n”,

    • ㅁ untuk “m”, dan seterusnya.

  • Tiga vokal utama (ㆍ, ㅡ, ㅣ) bahkan melambangkan langit, bumi, dan manusia, terinspirasi dari filosofi Konfusianisme.

Gara-gara sistemnya yang sederhana dan logis, banyak linguist dunia menyebut Hangul sebagai salah satu aksara paling mudah dipelajari di dunia.

Makna Modern

Kini, Hangul bukan cuma simbol bahasa, tapi juga kebanggaan nasional Korea. Keberadaannya membuat tingkat melek huruf di Korea Selatan nyaris sempurna, hanya sekitar 1–2% yang masih buta huruf! Bahkan, UNESCO sempat menetapkan dokumen Hunminjeongeum sebagai Warisan Dunia karena kontribusinya dalam literasi global. Dan karena pengaruh K-pop serta drama Korea, banyak orang di seluruh dunia mulai belajar Hangul. Bisa dibilang, Hangul bukan cuma milik Korea lagi—tapi udah jadi bagian dari budaya global.

Kesimpulan

Hangul Day bukan sekadar hari libur biasa. Ini adalah perayaan tentang identitas, kecerdasan, dan semangat kesetaraan dalam pendidikan. Dari huruf yang diciptakan lebih dari 500 tahun lalu, Hangul berhasil jadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Korea.

Kamu tertarik belajar Hangul juga? Yuk mulai dari sekarang di Cockatoo Course! Dengan memahami Hangul, kamu bukan cuma belajar bahasa Korea tapi juga menyelami sejarah dan budaya yang luar biasa di baliknya.

(SA)

Mengapa Bahasa Inggris Britania Begitu Berbeda dengan Bahasa Inggris Amerika?

British English vs American English – Hai CC’ers! Siapa nih di sini yang sering bingung pas nonton serial atau film impor? Kadang, dengar logat British yang kaku banget, tiba-tiba pindah ke aksen American yang chill abis. Belum lagi pas lagi ketik essay atau chat sama bule, eh, kok ejaannya beda-beda ya?

Kayak kata “colour” dan “color,” atau “flat” dan “apartment.” Bikin mikir, ini Bahasa Inggris yang kita pelajari di sekolah itu yang mana sih?

Eits, jangan panik dulu. Perbedaan antara British English (BrE) dan American English (AmE) itu wajar banget, guys. Bahkan, seru kalau kita telusuri kenapa bisa beda jauh begitu. Ibaratnya kayak kamu dan teman kamu yang lahir di kota beda, pasti ada aja logat atau istilah gaul yang nggak sama, kan?

Yuk, kita cari tahu bareng-bareng!

Sejarah Singkat

Semua bermula saat orang-orang Inggris (Britania) datang ke benua Amerika sekitar abad ke-16 dan 17. Mereka bawa bahasa Inggris, tapi saat itu belum ada standar baku yang jelas. Jadi, orang masih bebas-bebas aja nulis dan ngomong seenaknya.

Nah, beberapa waktu kemudian, di Inggris, para ahli bahasa di London mulai menyusun kamus buat nge-standarisasi ejaan. Di sisi lain, di Amerika, ada sosok penting bernama Noah Webster yang juga nyusun kamus sendiri.

Webster ini, konon katanya, sengaja mengubah beberapa ejaan biar beda dari Inggris. Kenapa? Karena Amerika sudah merdeka dan dia mau nunjukkin kalau Amerika juga punya identitas dan budaya mandiri, nggak mau ngekor terus sama negara asalnya.

Beda Aksen, Beda Kasta!

Selain ejaan, pelafalan (aksen) juga ikutan beda. Awalnya, pendatang di Amerika itu ngomongnya pakai aksen ‘rotik’, di mana mereka jelas banget ngucapin bunyi huruf ‘r’ (contoh: car diucapkan c-A-R). Aksen ini yang akhirnya bertahan dan jadi ciri khas American English sampai sekarang.

Uniknya, di Inggris, sekitaran abad ke-18, masyarakat kelas atas justru mulai melembutkan atau menghilangkan bunyi ‘r’ di akhir kata. Mereka sengaja ngomong beda biar nggak disamain sama masyarakat biasa. Karena kaum elite selalu jadi role model, akhirnya gaya bicara ini yang ditiru dan meluas di Inggris bagian selatan, yang kita kenal sekarang sebagai aksen non-rotik British English.

Perbedaan Ejaan dan Kosakata

Perbedaan BrE dan AmE itu paling kentara di ejaan (spelling) dan kosakata (vocabulary). Ini dia beberapa yang paling sering bikin kita geleng-geleng:

Beda Ejaan (Spelling)

British English (BrE) American English (AmE) Bedanya di Mana?
colour color Hilang huruf u
centre center Tukar posisi re jadi er
organise organize Akhiran -ise jadi -ize
defence defense Akhiran -ce jadi -se

Webster memang pengen nyederhanain ejaan biar lebih gampang, makanya banyak huruf yang “dikorbankan” di AmE.

Beda Kosakata (Vocabulary)

Ini nih yang paling sering bikin salah paham pas ngobrol. Coba lihat, barang sehari-hari aja namanya beda:

British English (BrE) American English (AmE) Artinya
Trousers Pants Celana panjang
Flat Apartment Apartemen/rumah susun
Holiday Vacation Liburan
Chips French fries Kentang goreng panjang
Crisps Chips Keripik kentang
Lorry Truck Truk

Bayangin kalau kamu di UK bilang mau makan chips (keripik) dan mereka malah bawain french fries! Ups!

Sedikit Grammar Biar Nggak Ketinggalan

Di luar ejaan dan kata, ada juga perbedaan kecil di tata bahasa (grammar).

  1. Kata Benda Kolektif (Collective Noun):
    • BrE sering anggap kolektif itu jamak (bisa dianggap banyak): The band are playing.
    • AmE sering anggap kolektif itu tunggal (dianggap satu kesatuan): The band is playing.
  2. Bentuk Lampau Get:
    • BrE pakai got (contoh: I haven’t got a pen).
    • AmE lebih suka pakai gotten (contoh: I haven’t gotten a pen).

Jadi Mending Pilih yang Mana?

Meskipun bedanya banyak, dari ejaan, aksen, kosakata, sampai grammar, tenang aja. Persamaan antara BrE dan AmE itu JAUH LEBIH BANYAK daripada perbedaannya. Penutur dari Inggris dan Amerika biasanya tetap bisa ngobrol dan saling mengerti tanpa masalah berarti.

Jadi, kamu nggak perlu overthinking harus pakai yang mana. Pilih saja yang paling nyaman atau yang paling sering kamu dengar (misalnya dari film, musik, atau game yang kamu suka). Yang penting, kalau lagi nulis dokumen penting (misalnya essay akademik), konsisten aja pakai salah satu style, jangan dicampur-campur, biar nggak bingung.

Intinya, tahu bedanya itu seru dan nambah wawasan, tapi jangan sampai bikin kamu takut buat pede ngomong pakai Bahasa Inggris!

Mau Mahir Bahasa Inggris Tanpa Ribet Mikirin Perbedaan Aksen?

Gini guys, daripada cuma tahu teorinya, mending langsung praktik!

Buat kamu yang pengen ngobrol lancar, entah itu pakai gaya British yang elegan atau American yang cas-cis-cus, Cockatoo Course punya solusinya!

Kami menyediakan kursus Bahasa Inggris yang fleksibel banget, cocok buat gaya hidup Gen Z yang dinamis wkwkwk:

  • Online Class: Belajar di mana aja, sambil rebahan juga bisa. Hemat waktu dan effort!
  • Onsite Class: Buat kamu yang suka interaksi langsung dan suasana belajar seru di kelas.
  • Home Visit: Pilihan paling private dan eksklusif. Tutor kami yang datang ke rumah kamu!

Di Cockatoo Course, kamu bakal diajarin gimana caranya nggak cuma paham grammar, tapi juga pede komunikasi dan tahu konteks perbedaan antara BrE dan AmE.

Tunggu apa lagi? Upgrade skill Bahasa Inggris kamu sekarang dan cek info dan promo lengkapnya di Instagram atau Tiktok @cockatoocourse!

(SA)

Asal-usul Emoji Ternyata dari Jepang!

Cockatoocourse.com – Pernah nggak sih kamu mikir, gimana hidup kita tanpa emoji? 😅 Bayangkan chatting tanpa wajah senyum, tanpa jempol, atau tanpa hati merah ❤️, pasti rasanya hambar banget! Tapi tahukah kamu, simbol kecil yang sekarang jadi bagian penting dari komunikasi digital ini ternyata berasal dari Jepang, lho!

Yup, negeri sakura bukan cuma terkenal karena sushi, anime, dan bunga sakuranya, tapi juga jadi tempat kelahiran emoji, bahasa visual yang sekarang dipakai miliaran orang di seluruh dunia. Yuk, kita telusuri bagaimana sejarah emoji dimulai sampai akhirnya jadi “bahasa global” yang penuh warna!

Dari Emotikon ke Emoji: Awal Mula Ekspresi Digital

Sebelum ada emoji, dunia digital lebih dulu mengenal emotikon. Bentuknya masih sederhana banget, cuma gabungan karakter teks seperti ini: 🙂 atau :-(. Ide ini muncul pada tahun 1982 dari seorang ilmuwan komputer asal Amerika, Scott Fahlman, yang ingin membedakan antara pesan serius dan bercanda di forum online.

Nah, dari sinilah manusia mulai sadar, bahkan di dunia digital pun, kita butuh cara untuk mengekspresikan emosi! Emotikon akhirnya menjadi langkah pertama menuju kelahiran emoji yang lebih visual dan berwarna.

Lahirnya Emoji di Jepang

Shigetaka Kurita
Shigetaka Kurita

Istilah emoji berasal dari bahasa Jepang: “e” (gambar) dan “moji” (karakter). Emoji pertama diciptakan oleh Shigetaka Kurita, seorang desainer di perusahaan telekomunikasi NTT DoCoMo, pada tahun 1999. Tujuannya sederhana: membuat pesan singkat jadi lebih ekspresif tanpa harus banyak mengetik.

Kurita menciptakan 176 emoji berukuran 12×12 piksel yang menggambarkan hal-hal sehari-hari, mulai dari hati ❤️, matahari ☀️, payung ☂️, hingga wajah senyum 😊. Emoji ini awalnya hanya digunakan di layanan pesan Jepang, tapi langsung populer karena membuat komunikasi terasa lebih “hidup”.

Dari Jepang ke Dunia

Setelah sukses di Jepang, emoji mulai menarik perhatian dunia Barat. Tahun 2010, organisasi Unicode Consortium, lembaga yang mengatur standar teks internasional mulai memasukkan emoji ke dalam sistem Unicode. Langkah ini bikin emoji bisa digunakan di berbagai platform seperti Apple, Google, dan Microsoft tanpa berubah bentuk.

Tahun 2011 jadi titik penting: Apple menambahkan emoji keyboard di iPhone, dan sejak itu emoji langsung mendunia. Dari percakapan santai sampai kampanye sosial, semua orang mulai pakai emoji untuk menyampaikan emosi secara cepat dan universal.

Emoji dan Representasi Budaya

Emoji terus berkembang, nggak cuma dari sisi desain tapi juga makna. Kalau dulu hanya ada warna kuning polos, sekarang sudah ada berbagai warna kulit, gender, bahkan emoji disabilitas.
Tujuannya? Agar semua orang dari latar belakang apa pun bisa merasa terwakili dalam percakapan digital. Bahkan, emoji kini juga punya makna budaya. Contohnya, emoji tangan 🙏 yang bisa berarti “terima kasih”, “berdoa”, atau “tolong”, tergantung konteks budaya penggunanya.

Emoji, Bahasa Baru di Era Digital

Menurut studi dari Adobe, lebih dari 90% pengguna internet di seluruh dunia memakai emoji setiap hari. Alasannya simpel: emoji membantu kita menyampaikan perasaan yang kadang sulit dijelaskan dengan kata. Emoji bikin pesan terasa lebih hangat, akrab, dan manusiawi, bahkan di dunia digital yang serba cepat ini.

Menariknya, emoji juga mulai dipakai dalam dunia profesional. Banyak perusahaan memanfaatkan emoji dalam email marketing, media sosial, bahkan komunikasi internal tim untuk menciptakan suasana yang lebih santai dan bersahabat.
Jadi, kalau kamu kirim “Terima kasih 🙏” ke rekan kerja, itu sekarang dianggap profesional kok, asal konteksnya tepat!

Ke depan, emoji akan terus berevolusi. Dengan bantuan teknologi AI dan augmented reality, bisa jadi nanti kita bakal punya emoji yang bisa berubah otomatis sesuai ekspresi wajah kita di layar. Seru, kan?Emoji bukan lagi sekadar gambar lucu, tapi sudah jadi bahasa global yang menyatukan manusia lintas bahasa dan budaya. Dari ide sederhana di Jepang, emoji kini jadi simbol komunikasi universal, membuktikan bahwa satu gambar kecil bisa berbicara lebih dari seribu kata.

Kesimpulan

Emoji lahir dari Jepang, tumbuh lewat teknologi, dan kini jadi bagian penting dari hidup digital kita. Dari sekadar simbol hati di layar ponsel sampai alat komunikasi yang menembus batas budaya, emoji telah membentuk cara baru manusia berinteraksi.

Jadi, lain kali kamu kirim emoji senyum 😊 atau jempol 👍, ingatlah bahwa kamu sedang menggunakan bahasa global yang berawal dari inovasi kecil di Jepang, bukti bahwa hal sederhana bisa membawa perubahan besar dalam cara kita berkomunikasi.

Kalau kamu tertarik dengan budaya dan bahasa Jepang, termasuk cara orang Jepang berkomunikasi lewat emoji, kamu bisa mulai belajar di Cockatoo Course! Kami menyediakan kelas bahasa Jepang yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan: online, onsite, maupun home visit. Kamu bakal diajak memahami bahasa Jepang dari sisi budaya, ekspresi, hingga kebiasaan sehari-hari.

(SA)

Sejarah Kimono

Kalau mendengar kata “kimono”, pasti yang terbayang adalah pakaian tradisional Jepang dengan desain anggun dan penuh makna. Tapi tahukah kamu kalau kimono punya sejarah panjang yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu?

Kimono Zaman Dulu
Kimono Zaman Dulu

Kimono pertama kali berkembang pada periode Heian (794–1185). Saat itu, teknik menjahit lurus mulai populer, sehingga lahirlah bentuk kimono yang sederhana namun fleksibel. Desain ini membuat kimono bisa dipadupadankan dengan berbagai lapisan pakaian dan cocok dikenakan di berbagai musim.

Seiring berjalannya waktu, kimono mengalami banyak perubahan gaya. Pada periode Edo (1603–1868), kimono menjadi lebih kaya warna dan motif. Para samurai, bangsawan, hingga pedagang menggunakan kimono untuk menunjukkan status sosial mereka. Bahkan, motif yang digunakan sering kali memiliki simbol khusus, seperti bunga sakura untuk melambangkan keindahan hidup yang singkat atau motif bangau untuk harapan panjang umur.

Namun, masuknya budaya Barat pada era Meiji (1868–1912) membuat pakaian modern mulai menggantikan kimono dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, kimono tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Hingga kini, kimono tetap digunakan dalam acara-acara penting, seperti pernikahan, upacara teh, festival, dan perayaan tahun baru. Kimono bukan hanya pakaian, melainkan juga karya seni yang mewakili budaya Jepang.

Melihat perjalanan panjang kimono dari masa ke masa, kita bisa belajar bahwa pakaian tradisional bukan hanya sekadar mode, tetapi juga identitas dan simbol sejarah bangsa.

Kalau kamu tertarik mengenal lebih dalam budaya Jepang, termasuk bahasa dan tradisinya, Cockatoo Course siap menemani perjalanan belajarmu. Dengan pengajar berkualitas, harga yang terjangkau, serta pilihan belajar online, onsite, hingga home visit, belajar bahasa Jepang (dan juga Mandarin, Korea, serta Inggris) jadi lebih seru dan bermakna.

(SA)

Referensi:

Mengenal Kimono: Pakaian Tradisional Jepang & 10 Fakta Menariknya

A Complete Guide to Japanese Kimono: Types, How To Wear and Where To Buy

Sejarah Kimono dari Masa ke Masa – National Geographic

Makna Bendera Inggris

Bendera nasional Inggris dikenal dengan nama Saint George’s Cross, berupa salib merah di atas latar putih. Desain sederhana ini sudah digunakan sejak Abad Pertengahan dan memiliki makna sejarah serta simbolis yang kuat.

Asal Usul Saint George’s Cross

Saint George’s Cross
Saint George’s Cross

Bendera Inggris pertama kali populer pada masa Perang Salib. Salib merah melambangkan Santo Georgius, santo pelindung Inggris, yang dipandang sebagai pahlawan yang melawan kejahatan. Pada masa itu, bendera ini menjadi tanda pengenal bagi tentara dan kapal Inggris.

Di bawah pemerintahan Edward I (1272–1307), salib merah pada latar putih dijadikan lambang nasional Inggris. Pada abad ke-16, bendera ini semakin sering digunakan dalam peperangan maupun sebagai simbol maritim.

Perkembangan Hingga Union Jack

Union Jack
Union Jack

Tahun 1606 menjadi titik penting ketika Raja James VI dari Skotlandia naik takhta Inggris sebagai James I. Saat itu, bendera Inggris (Salib Santo George) digabungkan dengan bendera Skotlandia (Salib Santo Andreas), membentuk Union Flag.

Perubahan berikutnya terjadi pada tahun 1801, ketika Irlandia bergabung ke dalam Britania Raya. Salib Santo Patrick (salib diagonal merah) ditambahkan, menghasilkan desain Union Jack modern yang dikenal hingga sekarang.

Walaupun Union Jack menjadi simbol Britania Raya, Saint George’s Cross tetap digunakan sebagai bendera nasional Inggris, terutama pada acara olahraga atau perayaan nasional.

Makna Filosofis

  • Salib merah: melambangkan keberanian, pengorbanan, dan semangat perlawanan.

  • Latar putih: melambangkan kemurnian, kejujuran, dan integritas.

  • Santo Georgius: simbol pelindung bangsa Inggris, menegaskan identitas dan kebanggaan nasional.

Bendera Inggris di Era Modern

Kini, Saint George’s Cross sering berkibar dalam acara olahraga, terutama saat mendukung tim sepak bola nasional Inggris. Di sisi lain, Union Jack digunakan sebagai lambang resmi Britania Raya.

Dua bendera ini saling melengkapi: Saint George’s Cross menegaskan identitas nasional Inggris, sedangkan Union Jack merepresentasikan persatuan Britania Raya.

Kalau kamu tertarik belajar lebih dalam tentang Inggris, bukan hanya soal benderanya tapi juga bahasanya, kamu bisa coba kursus di Cockatoo Course. Di sini tersedia kelas bahasa Inggris, Mandarin, Korea, dan Jepang dengan metode online, onsite, maupun home visit. Harganya terjangkau, pengajarnya pun kredibel dan berpengalaman.

(SA)

Referensi:

Sejarah dan Makna Bendera Inggris, Muncul di Abad Pertengahan – PAGE ALL : Okezone News

Bendera Inggris Dulu: Bentuk, Warna, dan Maknanya | kumparan.com

Alasan Bendera Inggris Ada 2, Fungsinya Berbeda! | IDN Times

Asal Usul Union Jack – English Literature

Whatsapp