Makna Bendera Jepang: Simbol Matahari Terbit

Bendera Jepang punya desain yang sangat sederhana, tapi menyimpan filosofi yang dalam. Nama resminya adalah Nisshōki (日章旗) atau “Bendera Matahari”, meski orang Jepang lebih sering menyebutnya Hinomaru (日の丸) yang berarti “lingkaran matahari”. Bentuknya berupa bidang putih dengan lingkaran merah di tengah. Sekilas terlihat simpel, tapi maknanya erat sekali dengan identitas Jepang sebagai Negeri Matahari Terbit.

Sejarah Singkat

Penggunaan bendera matahari ini pertama kali tercatat pada tahun 701 dalam teks sejarah Shoku Nihongi. Kala itu Kaisar Monmu disebut memakai bendera bergambar matahari. Bukti konkret baru ditemukan tahun 1184, lalu desain ini makin populer pada abad ke-19. Bendera Hinomaru akhirnya resmi diakui sebagai bendera nasional Jepang melalui Undang-Undang Bendera dan Lagu Kebangsaan pada 13 Agustus 1999.

Filosofi Warna dan Simbol

  • Warna putih: melambangkan kejujuran dan integritas, nilai yang sangat dijunjung tinggi masyarakat Jepang.

  • Lingkaran merah: bukan merah terang, melainkan merah tua (crimson red) yang menggambarkan matahari terbit. Selain itu, lingkaran merah ini juga mewakili ketulusan dan sosok Dewi Amaterasu, dewi matahari dalam mitologi Shinto yang dipercaya sebagai leluhur kaisar Jepang.

Matahari sendiri memang punya peran penting dalam mitologi dan budaya Jepang. Bahkan, Kaisar Jepang sering disebut sebagai “putra matahari”. Tak heran jika simbol matahari dijadikan lambang utama negara ini.

Bendera Lain yang Kontroversial

Kyokujitsu-kiKyokujitsu-ki

Selain Hinomaru, ada juga Kyokujitsu-ki atau “Bendera Matahari Terbit dengan Sinar”. Bendera ini digunakan oleh militer Jepang di masa perang dan hingga kini masih dipakai dalam konteks tertentu, meski bagi beberapa negara seperti Korea, bendera ini dianggap kontroversial karena asosiasinya dengan penjajahan.

Belajar bahasa dan budaya Jepang bisa bikin kita lebih paham filosofi simbol seperti Hinomaru ini. Di Cockatoo Course, kamu bisa belajar bahasa Jepang dengan pengajar berkualitas, harga terjangkau, dan pilihan belajar online, onsite, atau home visit. Yuk, mulai petualangan belajarmu sekarang!

(SA)

Referensi:

Hellowork | Find Your Dreams Job

Filosofi Bendera Jepang

Apa Sih Makna di Balik Warna Putih dan Lingkaran Merah di Bendera Jepang? | Berita Jepang Japanesestation.com

Makna Bendera Tiongkok: Simbol Persatuan dan Revolusi

Bendera nasional Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang dikenal dengan nama Bendera Merah Lima Bintang (五星红旗, wǔxīng hóngqí), merupakan salah satu bendera paling ikonik di dunia. Dengan latar merah mencolok dan lima bintang berwarna kuning, desain sederhana ini menyimpan makna sejarah, ideologi, serta persatuan bangsa Tiongkok.

Sejarah Singkat

Bendera ini diciptakan oleh Zeng Liansong, seorang seniman dari Zhejiang, pada tahun 1949. Setelah kemenangan Partai Komunis Tiongkok dalam perang saudara, lahirlah kebutuhan akan simbol baru yang dapat merepresentasikan semangat revolusi dan persatuan rakyat. Desain Zeng dipilih dari ratusan usulan dan pertama kali dikibarkan pada 1 Oktober 1949, saat berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.

Filosofi dan Makna

  • Warna merah: melambangkan revolusi, semangat juang, dan darah para pahlawan yang gugur demi bangsa.

  • Bintang besar kuning: simbol kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok.

  • Empat bintang kecil: merepresentasikan empat kelas utama dalam masyarakat menurut paham komunis, yaitu buruh, petani, borjuis kecil, dan borjuis nasional.

  • Ada pula interpretasi lain yang menyebut bintang besar mewakili etnis mayoritas Han, sedangkan empat bintang kecil melambangkan kelompok minoritas seperti Tibet, Uighur, Mongol, dan Manchu.

Bendera sebagai Simbol Persatuan

Sejak dikibarkan, Bendera Merah Lima Bintang menjadi simbol kuat dari persatuan dan identitas nasional Tiongkok. Hingga kini, bendera ini berkibar di berbagai perayaan penting, sekolah, kantor pemerintahan, hingga event internasional sebagai representasi kebanggaan bangsa.

Belajar bahasa Mandarin bisa bikin kamu makin paham makna mendalam simbol-simbol Tiongkok seperti ini, lho!
Di Cockatoo Course, kamu bisa belajar Mandarin dengan metode seru, baik online maupun onsite (tatap muka). Yuk, mulai perjalanan bahasamu sekarang dan pahami budaya Tiongkok lebih dekat!

(SA)

Referensi:

The Flag of China: The Story of Magic, Charm, and Legends

Reflections | The history of the Chinese national flag, from the 19th century Yellow Dragon to 1949’s red design with its 5 stars, and what these symbolise | South China Morning Post

Makna Bendera Korea Selatan

Kalau ngomongin Korea Selatan, pasti yang langsung kepikiran banyak orang adalah K-Pop, drama Korea, atau kulinernya yang bikin nagih. Tapi, pernah nggak sih kamu penasaran sama bendera negara ini? Bendera Korea Selatan, yang disebut Taegeukgi (태극기), ternyata punya makna filosofis yang dalam banget, lho. Yuk, kita bahas bareng!

Simbol Lingkaran Merah-Biru

Di tengah bendera ada lingkaran merah dan biru yang disebut Taegeuk. Bagian merah mewakili yang (positif, terang, maskulin), sementara biru melambangkan yin (negatif, gelap, feminin). Konsep yin dan yang ini menggambarkan keseimbangan dalam kehidupan, bahwa segala sesuatu punya lawan, tapi justru dari situlah harmoni tercipta.

Empat Garis Hitam (Trigram)

Di sekeliling lingkaran, ada empat set garis hitam yang disebut trigram dari filosofi Tiongkok kuno. Masing-masing trigram punya arti sendiri:

  • ☰ (geon) di kiri atas: melambangkan langit.

  • ☷ (gon) di kanan bawah: melambangkan bumi.

  • ☵ (gam) di kiri bawah: melambangkan air.

  • ☲ (ri) di kanan atas: melambangkan api.

Kombinasi keempatnya melambangkan keseimbangan alam semesta, langit dan bumi, api dan air. Intinya, hidup manusia berjalan seimbang karena ada semua unsur ini.

Warna Putih yang Bermakna

Latar belakang putih pada bendera Taegeukgi juga bukan tanpa alasan. Warna ini melambangkan kemurnian, perdamaian, dan identitas bangsa Korea. Sejak dulu, masyarakat Korea sering menggunakan pakaian tradisional berwarna putih, sehingga putih dianggap merepresentasikan jiwa bangsa mereka.

Lebih dari Sekadar Simbol Negara

Buat orang Korea, bendera ini bukan cuma tanda identitas negara, tapi juga refleksi filosofi hidup yang penuh keseimbangan. Nggak heran kalau bendera Taegeukgi selalu dikibarkan dengan penuh rasa bangga, baik saat upacara kenegaraan maupun pertandingan olahraga internasional.

Nah, kalau tadi kita sudah belajar soal makna di balik bendera Korea Selatan, gimana kalau sekarang kamu coba menambah wawasan dengan belajar bahasanya juga? Di Cockatoo Course, kamu bisa belajar bahasa Korea, Jepang, Mandarin, maupun Inggris dengan cara yang fleksibel, mulai dari online, onsite, sampai home visit. Harganya affordable, pengajarnya berkualitas dan kredibel. Jadi, yuk, isi keseharianmu dengan pengetahuan baru yang bermanfaat!

(SA)

Referensi:
Flag of South Korea | Symbolism, Meaning & History | Britannica

National Administration> National Symbols of the Republic of Korea> The National Flag – Taegeukgi

Taegeuk | Asia Society

Mengetahui Lebih Jauh tentang Bendera Nasional Korea, Taegeukgi! | kumparan.com

Sejarah Es Krim

Siapa sih yang nggak suka es krim? Dessert manis dan dingin ini jadi favorit banyak orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Tapi, pernah kepikiran nggak kalau es krim yang kita nikmati hari ini ternyata punya sejarah panjang yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu? Yuk, kita kulik bareng sejarah es krim yang ternyata seru banget!

Dari Tiongkok Kuno Hingga Romawi

Catatan paling awal soal es krim datang dari Tiongkok sekitar tahun 200 SM. Saat itu, masyarakatnya udah bikin campuran susu dan beras yang dibekukan dengan salju. Rasanya mungkin beda jauh sama es krim modern, tapi bisa dibilang inilah cikal bakalnya. Lalu, di era Dinasti Tang (618–907 M), ada hidangan susu beku yang bahkan jadi favorit keluarga kerajaan.

Di Persia sekitar 400 SM, ada juga “faloodeh” , campuran bihun tipis dengan sirup manis dan air mawar yang disajikan dingin dengan es pegunungan. Sedangkan di Romawi, Kaisar Nero konon suka mengirim budaknya naik gunung buat ngambil salju, lalu dicampur madu dan buah. Kebayang kan, dulu es krim itu bener-bener makanan mewah?

Sampai ke Eropa dan Amerika

Lewat jalur perdagangan, resep es krim akhirnya nyampe ke Eropa. Marco Polo disebut-sebut membawa inspirasi dessert beku dari Asia ke Italia pada abad ke-13. Dari sana, lahirlah “sorbetto” dan kemudian gelato yang kita kenal sekarang. Pada abad ke-16, Catherine de’ Medici memperkenalkan es krim ke istana Prancis, dan sejak itu popularitasnya makin meluas ke Inggris serta seluruh Eropa.

Nah, di abad ke-18, es krim mulai masuk ke Amerika. Bahkan Thomas Jefferson punya resep vanilla ice cream favoritnya sendiri yang masih tersimpan sampai hari ini. Penemuan mesin pendingin di abad ke-19 bikin es krim makin mudah diproduksi massal, sampai akhirnya jadi jajanan populer di mana-mana.

Es Krim Masa Kini

Sekarang, es krim hadir dalam berbagai bentuk: cone, sundae, soft serve, gelato, hingga es krim mochi. Variasi rasanya pun nggak terbatas, mulai dari vanilla klasik, matcha, sampai rasa unik kayak durian atau bahkan cabai. Es krim nggak lagi sekadar makanan elit, tapi jadi camilan manis yang bisa dinikmati semua orang.

Nah, ngomongin soal “rasa-rasa baru”, pernah kepikiran nggak kalau belajar bahasa juga kayak nyicipin es krim? Di Cockatoo Course, kamu bisa coba belajar bahasa Mandarin, Jepang, Korea, atau Inggris dengan cara yang fun dan fleksibel. Bisa online, onsite, bahkan home visit. Harganya pun affordable, dengan pengajar yang berkualitas dan kredibel. Jadi, yuk, sambil nikmatin es krim favorit, jangan lupa tambahin “rasa baru” dalam hidupmu dengan belajar bahasa di Cockatoo Course! 🍦✨

(SA)

Referensi:
The Sweet History of Ice Cream: From Ancient Delicacies to Modern Trea – Right Cream

CBBC Newsround | ICE-CREAM | The origin of ice-cream

The Ancient Country That Invented Ice Cream

Ancient Chinese Ice Cream Probably Pre-Dates Italy’s Gelato | The World of Chinese

Apa Sih Bedanya Sushi, Sashimi, Maki, dan Nigiri?

Jangan Sampai Salah Pesan! Pahami Perbedaan Mendasar Setiap Hidangan Khas Negeri Sakura Ini

Halo teman-teman pencinta kuliner Jepang! Mau ngajak kalian ngobrol santai nih soal makanan khas Jepang yang sering bikin kita bingung bedanya: Sushi, Sashimi, Maki, dan Nigiri. Tenang aja, akan dijelaskan satu per satu biar kalian makin jago bedainnya!

Baca Juga: 5 Idiom Bahasa Inggris yang Sering Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari – Cockatoo Course

Sushi

sushi
Gambar Sushi

Pasti banyak dari kalian yang kalau dengar kata “sushi” langsung kebayang nasi digulung pakai nori (rumput laut) terus di dalamnya ada ikan atau sayuran, kan? Nah, itu nggak salah, tapi sushi itu sebenarnya punya arti yang lebih luas, lho. Bahan terpenting yang harus ada pada Sushi adalah nasi, ikan (mentah ataupun matang), dan nori serta sayuran yang opsional, bergantung pada jenis sushi yang ingin dibuat. Uniknya, ciri khas dari sushi adalah nasi yang direndam cuka. Makanya, kata “sushi” sendiri dari bahasa Jepang artinya “nasi asam”. Jadi, kalau ada nasi cuka, kemungkinan besar itu bagian dari sushi. Sushi tradisional sih biasanya berisi nasi dan makanan laut yang mentah , tapi sushi modern sekarang dapat mencakup berbagai jenis daging, sayuran, dan makanan laut yang dimasak bersama bahan tambahan lain seperti alpukat dan mentimun.

Sashimi

Sashimi
Gambar Sashimi

Sekarang, kita bahas Sashimi. Ini dia nih yang sering disalahartikan sebagai sushi. Padahal, sashimi itu beda banget, lho! Sashimi mengacu pada irisan ikan atau daging segar yang disajikan dalam keadaan mentah, tanpa menggunakan nasi sama sekali. Jadi, kalau kalian lihat irisan salmon atau tuna mentah yang cuma ditemani saus dan wasabi, itu namanya sashimi. Biasanya, sashimi terdiri atas daging salmon, tuna, udang, hingga gurita. Kata “sashimi” sendiri, menurut Roka Akor, diterjemahkan sebagai “tubuh yang ditindik” atau “daging yang ditusuk”. Sashimi sendiri bukanlah bagian dari kelompok sushi. Namun begitu, Anda masih sering bisa menemukan hidangan sashimi di berbagai restoran sushi. Udah jelas kan bedanya? Kalau sushi pakai nasi cuka, sashimi murni irisan daging mentah tanpa nasi.

Nigiri

Nigiri
Gambar Nigiri

Terus, ada lagi nih yang namanya Nigiri. Nah, kalau nigiri ini bisa dibilang gabungan antara Sushi dan Sashimi. Kenapa begitu? Karena Nigiri merupakan hidangan yang berisi irisan ikan mentah (sashimi) yang disajikan di atas nasi cuka (sushi) yang dibentuk lonjong. Karena Nigiri menggunakan Nasi Cuka, maka Nigiri tergolong dalam jenis sushi. Melansir dari Roka Akor, Nigiri memiliki arti “Dua Jari”. Ini karena hidangan Nigiri seukuran 2 jari. Sajian nigiri selalu beragam, mulai dari salmon, tuna, gurita, udang, hingga cumi. Sebagian dari sajian nigiri bisa disajikan mentah, bisa juga dibakar. Jadi, kalau kalian ketemu nasi lonjong terus di atasnya ada ikan, itu sudah pasti nigiri!

Maki

Maki
Gambar Maki

Terakhir, mari kita kenalan sama Maki. Maki adalah bagian dari sushi. Jadi, apabila Anda memakan sushi tradisional yang digulung, maka kemungkinan besar yang Anda makan adalah Maki. Maki terbuat dari nasi yang diisi dengan daging ikan di bagian tengahnya, lalu digulung oleh rumput laut. Maki memiliki banyak varian. Ada Temaki, yakni sushi dengan aneka isian dan digulung oleh nori dengan bentuk kerucut. Orang-orang menyebutnya Hand Roll Sushi. Ada Tekkamaki yang bentuknya mirip maki namun hanya berisi 1 bahan ikan plus nasi saja. Contohnya Tuna Roll, Salmon Roll, dan Mentimun Roll. Ada Futomaki, yakni sushi gulung tradisional yang tebal dan gemuk. Biasanya Futomaki berisi sayuran hingga unagi yang diisi di bagian tengahnya. Contoh dari Futomaki ini adalah California Roll.

Gimana? Sekarang udah nggak bingung lagi kan bedanya Sushi, Sashimi, Maki, dan Nigiri? Semoga penjelasan santai ini bisa bikin kalian makin paham dan makin jago deh kalau lagi pesan makanan Jepang. Selamat mencoba!

Mau lebih jago lagi soal berbagai hal?

Tidak hanya urusan kuliner, jika kamu tertarik untuk mengasah kemampuan di bidang lain, seperti bahasa, yuk, intip kursus menarik di Cockatoo Course! Di sini, kamu bisa menemukan kelas-kelas yang dirancang untuk meningkatkan potensi dan keterampilan bahasa kamu, salah satunya Bahasa Jepang, dengan cara yang fun dan interaktif. Kunjungi website Cockatoo Course sekarang dan temukan kursus yang paling cocok untuk kamu!

(SA)

Referensi: Mengenal Sederet Perbedaan Sushi, Sashimi, Maki, dan Nigiri

Mengapa Ada Kematian? Mitos Chang’e dan Tradisi Tiongciu

Cockatoocourse.com – Pernahkah kamu berpikir, kenapa manusia bisa mati? Pertanyaan ini sudah ada sejak zaman kuno dan sering dijawab lewat mitos dan dongeng. Di budaya Tionghoa, ada satu mitos kuno yang sangat terkenal dan berkaitan erat dengan pertanyaan ini. Namanya adalah kisah Chang’e Melayang ke Bulan.

Namun, mitos ini bukan sekadar cerita biasa. Lebih dari itu, ia punya hubungan erat dengan tradisi kumpul keluarga saat Malam Tiongciu (Mid-Autumn Festival).

Yuk, kita gali bersama! Kita akan melihat bagaimana cerita ini menjelaskan asal usul kematian dan mengapa kebersamaan keluarga begitu penting dalam budaya Tionghoa.

Mitos Chang’e: Asal Usul Kematian Manusia

Mitos Chang’e dikenal luas di kalangan rakyat Tiongkok. Cerita ini dimulai dari Yi, seorang pemanah hebat. Suatu hari, langit memiliki sepuluh matahari karena permaisuri Di Jun melahirkan semuanya. Awalnya, mereka muncul bergantian. Namun kemudian, kesepuluh matahari muncul bersamaan dan membuat bumi terbakar. Sawah mengering, sungai menguap, dan makhluk hidup hampir punah.

Karena itu, Di Jun memerintahkan Yi untuk menghukum sembilan matahari. Yi pun memanah sembilan dari mereka hingga mati. Dunia kembali sejuk dan manusia selamat.

Namun, meskipun Yi menyelamatkan bumi, Di Jun tetap marah karena anak-anaknya terbunuh. Akibatnya, Yi dan istrinya Chang’e tidak boleh kembali ke langit. Mereka harus hidup dan mati layaknya manusia biasa.

Kemudian, Yi mendapat dua bungkus obat keabadian dari Xi Wang Mu, dewi di Gunung Kun Lun. Jika diminum satu bungkus, manusia bisa hidup abadi. Jika dua bungkus, manusia bisa naik ke khayangan. Yi lalu menitipkan obat itu kepada Chang’e.

Namun, Chang’e menyimpan rasa curiga pada Yi. Ia menduga suaminya berselingkuh. Karena amarahnya, Chang’e meminum kedua bungkus obat itu sekaligus. Tanpa disadari, tubuhnya menjadi ringan dan ia mulai melayang. Akhirnya, ia sampai ke bulan dan dalam versi kuno berubah menjadi seekor katak puru. Namun, versi lain menyebut ia tetap menjadi dewi, hanya saja merasa kesepian di istana bulan.

Secara simbolis, cerita ini menyampaikan bahwa manusia sudah kehilangan kemampuan untuk hidup kembali. Setelah mati, manusia tidak bisa kembali lagi. Inilah bentuk kesadaran orang Tionghoa kuno terhadap kematian.

Ritual di Masa Lampau

Mitos Chang’e terhubung erat dengan perayaan Malam Tiongciu. Sejak zaman Kerajaan Shang (1600–1046 SM), para raja sudah memuja Dewi Bulan setiap akhir musim gugur. Tradisi ini kemudian meluas ke masyarakat biasa pada masa Dinasti Song, Ming, dan Qing.

Pada zaman Dinasti Qing (1644–1911), ritual dilakukan setelah makan malam keluarga. Sebuah altar diletakkan di halaman, di bawah sinar bulan. Di atasnya ada dupa, lilin merah, serta kue bulan dan buah-buahan bulat yang melambangkan bulan purnama.

Kepala keluarga wanita memulai ritual dengan membakar dupa, lalu bersujud tiga kali ke arah bulan. Setelah itu, anggota keluarga lainnya mengikuti secara bergantian.

Makna Filosofis dan Perubahan Tradisi

Ritual ini menyampaikan pesan penting: manusia akan mati, tapi bulan di langit tidak. Namun, dengan berkumpul bersama dan memuja Dewi Bulan, manusia mencoba meniru keabadian bulan. Kue bulan dibagi-bagikan, seolah menyimbolkan bahwa keluarga manusia bisa menjadi utuh kembali, seperti bulan purnama yang bulat sempurna.

Ucapan selamat khas Malam Tiongciu, “Ren Yue Shuang Yuan”, berarti keluarga manusia menjadi utuh dan sempurna, seperti bulan.

Seiring waktu, terutama setelah 1911, ritual religius mulai berkurang. Kini, tradisi lebih bersifat santai: kumpul keluarga, menikmati kue bulan, dan menatap bulan bersama.

Kesimpulan

Mitos Chang’e telah hidup selama ribuan tahun. Ia memberi gambaran tentang asal usul kematian dan pentingnya keluarga. Hidup dan mati memang bertentangan, namun orang Tionghoa menemukan makna dengan cara menjaga kebersamaan.

Cerita ini terus diceritakan setiap tahun agar generasi muda menghargai keluarga. Kesadaran akan kematian juga menjadi dasar ajaran Taoisme yang bertujuan mencari keabadian.

Belajar Budaya Lewat Bahasa di Cockatoo Course

Di Cockatoo Course, kami percaya bahwa belajar bahasa tak hanya soal tata bahasa atau kosakata. Lebih dari itu, kamu juga harus memahami budaya dan cerita di baliknya.

Kami menawarkan kursus bahasa Mandarin, Jepang, Korea, dan Inggris, dengan pilihan kelas online, onsite (Jabodetabek & Bandung), maupun home visit. Pengajar kami akan membantu kamu menguasai bahasa sekaligus memahami budaya setempat.

Yuk, mulai perjalanan belajarmu bersama Cockatoo Course!

(SA)

Referensi:

Wei, Z. (2008). Asal Muasal Kematian Manusia Dan Tradisi Kumpul Keluarga Dalam Budaya Cina. Humaniora, 20(3), 340–350

Mitos dan Kepercayaan Unik dalam Bahasa Mandarin (di Balik Angka 8 dan 4)

Cockatoocourse.com – Pernah nggak sih kamu dengar kalau orang China itu suka banget sama angka 8 dan justru menghindari angka 4? Bukan cuma sekadar suka atau nggak suka, lho. Ada mitos dan kepercayaan unik yang kuat banget di balik angka-angka ini dalam bahasa Mandarin dan budaya Tionghoa. Penasaran kenapa? Yuk, kita bedah satu per satu!

Angka 8: Simbol Keberuntungan dan Kekayaan

Coba perhatikan, banyak banget hal-hal penting atau tanggal-tanggal istimewa di China yang melibatkan angka 8. Misalnya, upacara pembukaan Olimpiade Beijing tahun 2008 itu dimulai tepat pada tanggal 8 Agustus 2008, pukul 8:08:08 malam. Kebetulan? Nggak juga!

Kenapa angka 8 begitu spesial? Ini semua karena pengucapannya dalam bahasa Mandarin. Angka “delapan” dalam bahasa Mandarin adalah “bā” (八). Nah, bunyi “bā” ini sangat mirip dengan kata “fā” (发) yang artinya “kemakmuran” atau “kekayaan”. Jadi, secara nggak langsung, angka 8 jadi identik dengan keberuntungan, kesuksesan, dan rezeki yang melimpah.

Makanya, jangan kaget kalau harga plat nomor kendaraan dengan angka 8 itu bisa selangit di China. Atau, orang-orang rela bayar mahal untuk alamat rumah, nomor telepon, bahkan tanggal pernikahan yang ada angka 8-nya. Ini semua demi menarik energi positif dan keberuntungan dalam hidup mereka. Angka 8 dianggap membawa hoki dan kelancaran usaha.

Angka 4: Lambang Kemalangan dan Kematian

Berbanding terbalik dengan angka 8, angka 4 itu jadi momok buat sebagian besar orang Tionghoa. Kenapa begitu? Sama seperti angka 8, alasannya ada di pelafalannya.

Angka “empat” dalam bahasa Mandarin adalah “sì” (四). Nah, bunyi “sì” ini kedengarannya mirip banget sama kata “sǐ” (死) yang artinya “kematian”. Otomatis, angka 4 langsung diasosiasikan dengan nasib buruk, kemalangan, atau bahkan kematian.

Maka dari itu, kamu bakal jarang banget menemukan lantai 4 di gedung-gedung bertingkat di China (seringnya langsung loncat dari lantai 3 ke lantai 5). Begitu juga dengan nomor kamar hotel atau nomor apartemen. Orang-orang akan sebisa mungkin menghindari angka 4. Ini adalah bentuk keyakinan yang kuat untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang dianggap sial. Konsep ini mirip dengan triskaidekaphobia (ketakutan pada angka 13) di budaya Barat, tapi lebih meluas di kehidupan sehari-hari.

Memahami Bahasa, Memahami Budaya

Fenomena angka 8 dan 4 ini cuma satu dari sekian banyak contoh bagaimana bahasa Mandarin itu punya ikatan erat dengan budaya dan kepercayaan masyarakatnya. Mempelajari bahasa Mandarin bukan cuma soal menghafal Hanzi atau menguasai Pinyin, tapi juga memahami nuansa budaya seperti ini. Kalau kamu paham kenapa mereka sangat percaya pada angka-angka ini, kamu akan bisa berinteraksi lebih baik dan menghargai keunikan budaya Tionghoa.

Di Cockatoo Course, kami memahami bahwa belajar bahasa itu nggak cuma dari buku pelajaran. Kami percaya, untuk bisa menguasai bahasa dengan baik, kamu juga harus paham budaya di baliknya.

Cockatoo Course menyediakan berbagai program kursus bahasa Mandarin, Jepang, Korea, dan Inggris. Kamu bisa pilih kelas online, onsite (untuk area Jabodetabek dan Bandung), bahkan home visit! Pengajar kami akan membimbingmu untuk memahami seluk-beluk bahasa dan budaya, sehingga kamu bisa berkomunikasi dengan percaya diri dan benar-benar “nyambung” dengan penutur aslinya. Jadi, yuk, mulai petualangan belajarmu bersama kami di Cockatoo Course!

(SA)

Referensi:

8 Hal Seputar Angka Hoki Dan Angka Sial – TIONGHOA.INFO

British vs. American English

Cockatoocourse.com – Kamu tim British English atau American English? Atau mungkin malah bingung, “Emang bedanya apa sih?” Nah, kamu nggak sendirian! Banyak pembelajar bahasa Inggris yang masih sering keliru atau nggak tahu persis apa saja perbedaan kunci antara dua varian bahasa Inggris ini.

Meskipun sama-sama bahasa Inggris, British English (yang dipakai di Inggris dan negara-negara Persemakmuran) dan American English (yang umum di Amerika Serikat dan Kanada) punya ciri khas masing-masing. Memahami perbedaannya itu penting banget, lho. Kenapa? Karena ini bisa memengaruhi cara kamu berkomunikasi, baik saat bicara, menulis, maupun ketika memahami percakapan native speaker.

Yuk, kita bahas perbedaan utama yang wajib kamu tahu!

Perbedaan Kunci yang Wajib Kamu Tahu

British vs. American English

Ada beberapa area di mana British dan American English menunjukkan perbedaannya.

1. Kosakata (Vocabulary)

Ini mungkin yang paling sering kita temui. Banyak benda atau konsep yang punya nama berbeda:

  • British English: lift (elevator), lorry (truck), flat (apartment), biscuit (cookie), queue (line), holiday (vacation), crisps (chips).
  • American English: elevator (lift), truck (lorry), apartment (flat), cookie (biscuit), line (queue), vacation (holiday), chips (crisps).

Bayangkan kalau kamu di London dan bilang mau naik “elevator”, mungkin mereka akan sedikit bingung. Atau sebaliknya, di New York kamu mencari “flat”, bisa-bisa dikira mau beli ban kempes!

2. Ejaan (Spelling)

Beberapa kata punya ejaan yang beda tipis, tapi cukup untuk dikenali:

  • Kata yang berakhiran “-our” di British English jadi “-or” di American English:
    • colour (BE) vs. color (AE)
    • flavour (BE) vs. flavor (AE)
  • Kata yang berakhiran “-ise” di British English jadi “-ize” di American English:
    • organise (BE) vs. organize (AE)
    • realise (BE) vs. realize (AE)
  • Kata yang berakhiran “-re” di British English jadi “-er” di American English:
    • centre (BE) vs. center (AE)
    • theatre (BE) vs. theater (AE)

3. Tata Bahasa (Grammar)

Meskipun sebagian besar sama, ada beberapa perbedaan tata bahasa yang sering muncul:

  • Penggunaan Present Perfect: British English lebih sering menggunakan present perfect untuk tindakan yang baru saja selesai.
    • BE: “I have just eaten.”
    • AE: “I just ate.” (lebih sering pakai simple past)
  • Kata Kerja Kolektif: British English cenderung menganggap kata kerja kolektif (misalnya, government, team) sebagai jamak, sementara American English menganggapnya tunggal.
    • BE: “The team are playing well.”
    • AE: “The team is playing well.”
  • Preposisi: Ada juga perbedaan pada penggunaan preposisi tertentu:
    • BE: “at the weekend”
    • AE: “on the weekend”

4. Pelafalan (Pronunciation)

Ini mungkin yang paling sulit dijelaskan lewat tulisan, tapi sangat terasa saat didengar. Aksen British yang terkenal dengan Received Pronunciation (kadang disebut “Queen’s English”) punya ciri khas tertentu, seperti tidak melafalkan huruf ‘r’ di akhir kata (non-rhotic) kecuali diikuti vokal. Sementara American English melafalkan ‘r’ di mana saja (rhotic).

  • Contoh: Kata “car”. Di British English, ‘r’ di akhir tidak dilafalkan. Di American English, ‘r’ dilafalkan dengan jelas.

Pentingkah Mempelajari Perbedaan Ini?

Sangat penting! Dengan memahami perbedaan antara British dan American English, kamu jadi lebih fleksibel dan peka saat berkomunikasi. Kamu bisa menyesuaikan gaya bahasamu tergantung lawan bicara atau tujuanmu. Misalnya, jika kamu bekerja di perusahaan multinasional yang lebih sering berinteraksi dengan orang Inggris, memahami nuansa British English akan sangat membantu.

Di Cockatoo Course, kami menyediakan berbagai program kursus bahasa Mandarin, Jepang, Korea, dan Inggris. Pengajar kami akan membimbingmu untuk memahami seluk-beluk bahasa, termasuk perbedaan varian-varian bahasa Inggris ini, sehingga kamu bisa berkomunikasi dengan percaya diri dan benar-benar “nyambung” dengan penutur aslinya, baik dari London maupun New York.

Kamu bisa pilih kelas online, onsite (untuk area Jabodetabek dan Bandung), bahkan home visit! Jadi, yuk, mulai petualangan belajarmu bersama kami di Cockatoo Course!

(SA)

Mengenal Bahasa Jepang di Balik Tradisi ‘Omotenashi’ (Keramahtamahan Khas Jepang)

cockatoocourse.com – Pernah dengar soal ‘Omotenashi’? Ini bukan sekadar kata, lho. ‘Omotenashi’ itu adalah filosofi keramahtamahan khas Jepang yang sangat mendalam. Kalau kamu pernah berkunjung ke Jepang, atau bahkan cuma nonton film dan animenya, pasti merasakan keramahan yang luar biasa. Nah, ‘Omotenashi’ inilah yang jadi inti dari semua itu.

Tapi, apa hubungannya dengan belajar bahasa Jepang? Banyak banget! Memahami ‘Omotenashi’ itu seperti membuka pintu ke cara berpikir dan berkomunikasi orang Jepang. Ini bukan cuma soal senyum ramah atau membungkuk hormat. Lebih dari itu, ‘Omotenashi’ berarti berusaha menebak dan memenuhi kebutuhan orang lain bahkan sebelum mereka mengucapkannya. Dan yang paling penting, semua pelayanan itu dilakukan tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Apa Itu ‘Omotenashi’?

Secara umum, ‘Omotenashi’ sering diartikan sebagai “keramahtamahan Jepang”. Namun, makna sebenarnya jauh lebih kaya. Kata ini berasal dari gabungan dua kata:

  • Omote (表): Artinya “publik” atau “penampilan yang ditunjukkan di depan umum”. Ini merujuk pada presentasi yang sempurna dari luar.
  • Nashi (なし): Artinya “tidak ada” atau “kosong”. Ini mengacu pada tidak adanya motif tersembunyi atau pamrih dalam melayani.

Jadi, ‘Omotenashi’ itu adalah pelayanan yang tulus dan sepenuh hati. Semua dilakukan tanpa mengharapkan imbalan, dan dengan perhatian penuh pada setiap detailnya. Singkatnya, ini bukan cuma sekadar menjalankan tugas, tapi menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi tamu.

 

Bahasa yang Mencerminkan ‘Omotenashi’

Bagaimana ‘Omotenashi’ tercermin dalam bahasa Jepang sehari-hari? Ada banyak sekali caranya.

1. Penggunaan Kata Ganti Orang yang Sopan

Orang Jepang cenderung menghindari penggunaan kata ganti orang kedua (seperti “kamu”) secara langsung, terutama dalam situasi formal. Sebagai gantinya, mereka lebih sering menggunakan nama orang yang diikuti dengan suffix kehormatan (misalnya “-san”). Kadang-kadang, mereka bahkan mengulang nama jabatan lawan bicara. Ini adalah bentuk penghormatan dan menghindari kesan terlalu akrab atau kurang sopan.

2. Ungkapan Kehormatan (Keigo)

Ini adalah bagian paling kentara dari ‘Omotenashi’ dalam bahasa. Ada tiga jenis Keigo:

  • Sonkeigo (尊敬語): Ini adalah bahasa hormat yang digunakan untuk “mengangkat” atau meninggikan orang yang diajak bicara atau orang ketiga. Misalnya, daripada bilang “行く” (iku – pergi), mereka akan bilang “いらっしゃる” (irassharu) yang lebih sopan.
  • Kenjougo (謙譲語): Bahasa ini digunakan untuk merendahkan posisi diri sendiri atau kelompok sendiri saat berbicara dengan orang lain yang lebih tinggi statusnya. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kerendahan hati dan rasa hormat kepada lawan bicara. Contohnya, daripada bilang “食べる” (taberu – makan), mereka akan bilang “いただく” (itadaku) yang berarti “menerima dengan rendah hati” atau “makan/minum”.
  • Teineigo (丁寧語): Ini adalah bahasa sopan yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari, ditandai dengan akhiran “-masu” atau “-desu”. Ini adalah level kesopanan dasar yang menunjukkan rasa hormat.

Intinya, penggunaan Keigo ini menunjukkan betapa pentingnya hierarki dan rasa hormat dalam interaksi sosial di Jepang. Ini adalah cara mereka menunjukkan ‘Omotenashi’ melalui bahasa.

3. Frasa Pembuka dan Penutup yang Penuh Perhatian

Dalam percakapan, ada banyak frasa yang menunjukkan perhatian dan kepedulian:

  • Saat menerima sesuatu: “恐れ入ります” (Osoreirimasu) – ungkapan sopan yang bisa berarti “maaf mengganggu” atau “terima kasih banyak”.
  • Saat menawarkan bantuan: “お手伝いしましょうか” (O-tetsudai shimashou ka?) – “Apakah ada yang bisa saya bantu?”.
  • Saat berpisah: “お気をつけて” (O-ki wo tsukete) – “Hati-hati di jalan”.

Frasa-frasa ini memperlihatkan perhatian dan kepedulian yang mendalam terhadap lawan bicara.

Baca Juga: 7 tips belajar untuk ujian JLPT – Cockatoo Course

Mengapa Ini Penting untuk Pembelajar Bahasa Jepang?

Memahami ‘Omotenashi’ bukan cuma bikin kamu jago bahasa Jepang, tapi juga bikin kamu lebih peka terhadap budaya dan cara berpikir orang Jepang. Makanya, ini adalah salah satu kunci untuk bisa berkomunikasi dengan lebih efektif dan membangun hubungan yang baik dengan mereka.

Di Cockatoo Course, kami memahami bahwa belajar bahasa itu nggak cuma soal tata bahasa dan kosakata. Ini juga tentang memahami budaya di baliknya, seperti filosofi ‘Omotenashi’ yang mendalam ini. Sebagai lembaga kursus bahasa yang berdiri sejak Agustus 2020, Cockatoo Course menyediakan program bahasa Mandarin, Jepang, Korea, dan Inggris dengan pengajar-pengajar yang berkualitas.

Kami hadir sebagai jawaban bagi kamu yang ingin belajar bahasa asing tapi terkendala jarak atau jadwal. Di Cockatoo Course, kamu bisa pilih kelas online, onsite (untuk area Jabodetabek dan Bandung), bahkan home visit! Pengajar kami akan membimbingmu untuk memahami nuansa budaya seperti ‘Omotenashi’ ini, sehingga kamu bisa nggak cuma ngomong bahasa Jepang, tapi juga “hidup” dengan bahasanya dan berkomunikasi dengan percaya diri. Jadi, yuk, mulai petualangan belajarmu bersama kami di Cockatoo Course!

(SA)

 

Referensi:

“Omotenashi” : The Philosophy of Japanese Hospitality — TOKI

Keigo: The Importance of Politness in Japanese

Omotenashi – Japan National Tourism Organization

Perbedaan Sumpit Jepang dan Korea!

Cockatoocourse.com – Pernah nggak sih kamu makan di restoran Jepang dan Korea terus ngerasa sumpitnya beda? Awalnya mungkin nggak begitu kelihatan, tapi begitu dipakai, rasanya beda banget. Ternyata, meskipun sama-sama disebut “sumpit”, sumpit dari Jepang dan Korea punya karakteristik yang unik sesuai budaya masing-masing. Benda kecil, tapi punya cerita yang besar. Yuk, kita bahas bareng!

Sama-sama Sumpit, Tapi nggak sama

Perbedaan Sumpit Jepang dan Korea!
Sumpit Jepang

Kalau kamu sering makan makanan Asia, kamu pasti tahu kalau sumpit itu jadi alat makan utama selain sendok dan garpu. Tapi sumpit bukan cuma soal alat makan, melainkan juga bagian dari identitas budaya.

Di Jepang, sumpit yang biasa dipakai terbuat dari kayu atau bambu. Bahannya ringan, terasa hangat di tangan, dan nggak licin saat dipakai. Cocok banget buat makanan Jepang yang biasanya lembut dan kecil-kecil kayak sushi, sashimi, atau soba. Bahkan, desain sumpit Jepang sering dibuat cantik, dengan motif-motif tradisional yang bikin makan jadi lebih estetik.

Berbeda dengan Korea, di mana sumpit biasanya terbuat dari logam, khususnya stainless steel. Kesan pertama waktu pakai sumpit Korea adalah berat dan kadang agak licin, apalagi kalau baru pertama kali nyobain. Tapi ternyata ada alasan di balik pemilihan logam. Dulu, keluarga kerajaan Korea pakai sumpit dari perak untuk mendeteksi racun di makanan. Dari sana, budaya pakai sumpit logam terus berkembang sampai sekarang. Selain itu, sumpit logam juga lebih awet dan higienis.

Bentuknya Bikin Pengalaman Makan Beda

Perbedaan Sumpit Jepang dan Korea!
Sumpit Korea

Bukan cuma dari bahan, bentuknya pun beda. Sumpit Jepang cenderung lebih ramping dan ujungnya mengecil. Ini bikin kita lebih mudah mengambil makanan kecil atau memisahkan bagian makanan dengan presisi.

Sementara itu, sumpit Korea punya bentuk yang pipih dan sedikit lebar. Nggak seperti sumpit Jepang yang agak bundar. Waktu pertama kali pakai mungkin butuh adaptasi, tapi setelah terbiasa, sumpit ini enak juga dipakai makan makanan berat kayak daging panggang, kimchi, atau kue beras pedas (tteokbokki). Selain itu, orang Korea juga biasa makan pakai sendok logam panjang, yang dipakai buat sup atau nasi. Jadi, sumpit dan sendok itu kayak pasangan serasi di meja makan Korea.

Baca Juga: 5 Idiom Bahasa Inggris yang Sering Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari – Cockatoo Course

Mana yang Lebih Nyaman?

Kalau ditanya, mana yang lebih enak atau nyaman dipakai, jawabannya bisa beda-beda. Buat kamu yang lebih suka alat makan ringan dan gampang digenggam, mungkin akan lebih cocok pakai sumpit Jepang. Tapi kalau kamu suka sensasi makan yang “kokoh” dan lebih terasa, sumpit Korea bisa jadi pilihan menarik.

Yang jelas, dua-duanya punya keunikan sendiri dan jadi bagian penting dari budaya makan di negaranya. Dan serunya lagi, lewat hal sederhana seperti sumpit, kita bisa belajar banyak soal kebiasaan, sejarah, dan nilai-nilai yang dipegang masyarakatnya.

Lebih dari Sekadar Alat Makan

Ngomongin sumpit Jepang dan Korea memang nggak bisa dilepaskan dari konteks budaya. Di Jepang, ada aturan sopan santun saat pakai sumpit, misalnya nggak boleh menancapkan sumpit di nasi, karena itu menyerupai ritual kematian. Sementara di Korea, ada aturan untuk nggak mulai makan dulu sebelum orang yang lebih tua mengambil sumpitnya. Hal-hal seperti ini nunjukkin bahwa sumpit itu lebih dari sekadar alat makan, dia juga simbol penghormatan dan kebiasaan sosial.

Jadi, lain kali kamu makan di restoran Jepang atau Korea, coba deh perhatikan sumpit yang kamu pakai. Rasakan bedanya, dan siapa tahu kamu bisa ceritain ke teman-teman tentang makna di balik sumpit itu. Makan jadi bukan cuma soal rasa, tapi juga soal cerita budaya yang seru buat dibahas!

Lalu, bagaimana dengan sumpit China?

Nah, itu juga nggak kalah menarik, karena ternyata sumpit China punya ciri khas yang berbeda lagi. Tapi, kita bahas itu di artikel selanjutnya, ya!

Buat kamu yang tertarik nggak cuma nyobain makanannya, tapi juga pengin bisa ngobrol langsung pakai bahasanya, kamu bisa mulai belajar bahasa Jepang, Korea, atau bahkan Mandarin bareng Cockatoo Course. Belajarnya fleksibel banget, bisa online, onsite, atau bahkan home visit.
Yuk, jangan cuma jadi penikmat budaya, tapi juga jadi bagian dari ceritanya!

Referensi:

Etiket Penggunaan Sumpit di Jepang

11 Larangan Saat Makan Pakai Sumpit di Jepang, Jangan Tusuk Makanan

[While in Korea] Episode 7 – Table manners : Korea.net : The official website of the Republic of Korea

Whatsapp